Biografi KH Nachrowi Thahir
9 menit dibaca
KH. Nachrowi Thohir – Bungkuk
“Ketahuilah, bahwa kelak, suatu saat nanti tidak hanya santri-santri saja yang menjadi anggota NU. Tapi harus ada yang sarjana, insinyur, dokter, dan yang berpendidikan umum lainnya. Semua itu dibutuhkan untuk menunjang keberadaan NU yang luar biasa besar. Pada saatnya nanti.” Pesan Kiai Nachrowi kepada Kiai Saifuddin Zuhri pada tahun 1928.
“Ketahuilah, bahwa kelak, suatu saat nanti tidak hanya santri-santri saja yang menjadi anggota NU. Tapi harus ada yang sarjana, insinyur, dokter, dan yang berpendidikan umum lainnya. Semua itu dibutuhkan untuk menunjang keberadaan NU yang luar biasa besar. Pada saatnya nanti.” Pesan Kiai Nachrowi kepada Kiai Saifuddin Zuhri pada tahun 1928.
Di Malang, pernah ada kiai kharismatik yang mempunyai peran
penting dalam pengembangan pendidikan keislaman di Indonesia. Beliau adalah
Kiai Nachrowi Thohir yang pertama kali telah mendirikan Madrasah Muslimin
Nahdlatul Wathan. Kelak, madrasah ini menginspirasi daerah lain untuk
mendirikan madrasah serupa. Seperti apa perjalanan hidup Kiai Nachrowi, dan apa
perannya dalam mengembangkan pendidikan Islam di Indonesia? Berikut catatannya.
Kiai Nachrowi Thohir adalah putra
bungsu dari ulama kharismatik bernama Kiai Muhammad Thohir atau yang dikenal
dengan sebutan Mbah Bungkuk. Selama ini, Mbah Bungkuk dikenal sebagai ulama
yang ‘abid (ahli ibadah) dan
mempunyai karomah. Peninggalannya adalah Pesantren Miftahul Falah Bungkuk
Singosari Malang. Kiai Nachrowi dilahirkan di Bungkuk-Singosari pada tahun 1900
M/1317 H. Kiprahnya sudah terlihat sejak masih muda dan ketika dewasa pun masih
menaruh perhatian yang sangat tinggi untuk dunia pendidikan, khususnya bagi
masyarakat muslim.
Semasa muda, Kiai Nachrowi
menghabiskan waktunya untuk belajar agama kepada ayahnya. Saat itu pesantren
yang diasuh Mbah Bungkuk menjadi rujukan tokoh Nahdlatul Ulama dan beberapa
tokoh perjuangan lainnya. Dari Mbah Bungkuk, Kiai Nachrowi mempelajari dasar-dasar
agama Islam seperti membaca al-Qur’an dan mengaji kitab-kitab tauhid (Aqidatul Awam), ilmu alat seperti
Jurumiyah dan Imrithi. Setelah mengaji kepada ayahnya, Kiai Nachrowi Thohir
melanjutkan pengembaraanya keilmuannya ke Jampes Kediri untuk belajar kepada
seorang kiai kharismatik yang alimul
allamah, arif billah,dan taammuq (mendalam)
ilmunya bernama Kiai Ihsan Muhammad Dahlan Jampes.
Setelah beberapa waktu di Jampes,
Kiai Nachrowi berpamitan kepada gurunya untuk melanjutkan pengembaraan ngangsu kawaruh ke Pondok
Pesantren Siwalanpanji Sidoarjo yang diasuh oleh Kiai Ya’qub. Pesantren ini
dikenal sebagai basis pelabuhan para ulama-ulama yang nantinya terlibat dalam
pendirian Nahdlatul Ulama seperti Kiai M. Hasyim Asy’ari. Kiai Ya’qub sendiri
merupakan mertua dari Kiai M. Hasyim Asy’ari. Juga tidak ada keterangan lengkap
mengenai waktu yang ditempuh Kiai Nachrowi di pesantren ini. Kemudian, Kiai
Nachrowi beranjak ke Pesantren Jamsaren Solo yang diasuh oleh Kiai Idris (w.
1923). Dikisahkan ketika berada di Pondok Jamsaren ini, Kiai Nachrowi bersama
teman-teman sesama santri membentuk kelompok diskusi. Kelak, kelompok inilah
nantinya yang turut membantu Kiai Nachrowi dalam mengembangkan pendidikan di
Jagalan.
Dari Jamsaren, Kiai Nachrowi
kemudian ngansu
kawaruh ke Pondok Pesantren Syaikhona Muhammad Kholil
Bangkalan. Pesantren inilah yang menjadi pelabuhan terakhir dalam pengembaraan
keilmuan Kiai Nachrowi Thohir. Namun, ada dua keterangan lain mengenai pondok
pesantren yang menjadi pelabuhan Kiai Nachrowi Thohir setelah dari Jamsaren
Solo dan sebelum ke Bangkalan yaitu Pondok Pesantren Tebuireng Jombang yang
diasuh Kiai M. Hasyim Asy’ari dan diceritakan pula sempat nyantri di Makkah Mukarromah.
Hanya saja mengenai kedua pesantren tersebut belum ada keterangan yang lebih
lengkap.
Hadir dan Berjuang di Jagalan
Setelah memutuskan untuk pulang kampus dan tinggal di Malang
untuk mengabdi kepada masyarakat. Seperti gayung bersambut, Kiai Nachrowi
diambil menantu oleh seorang tokoh agama sekaligus saudagar kaya asal Jagalan
Kota Madya Malang yang bernama Kiai Abdul Hadi. Kiai Abdul Hadi merupakan orang
yang juga memiliki perhatian tinggi dalam dakwah Islam dan pengembangan
pendidikan. Atas izin Allah SWT dan inisiatif dari menantunya tersebut, Kiai
Abdul Hadi membangun gedung yang akan digunakan sebagai lembaga pendidikan di
atas tanah waqof dari Ibu Hj. Maryam. Bangunan dua lantai tersebut tak jauh
dari kediaman Kiai Abdul Hadi dan Kiai Nachrowi. Juga terletak di Jagalan Kota
Madya Malang. Sedangkan rumah kediaman Kiai Nachrowi dikemudian hari menjadi
kantor sekertariat Muslimat NU.
Kiai Abdul Hadi memberikan
wewenang dalam mengelola sepenuhnya kepada menantunya tersebut. Kiai Nachrowi
sendiri dikenal sebagai tokoh muda yang peduli terhadap pendidikan. Sebagai
seorang yang hidup pada masa akhir pemerintahan kolonial, ia melihat banyak
sekali ketimpangan dan perbedaan yang sangat mencolok antara komunitas Islam
dengan masyarakat lainnya terutama dibidang pendidikan. Inilah yang memicu
semangat perjuangan Kiai Nachrowi. Padahal beliau sendiri tidak pernah tercatat
sebagai siswa dari sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial.
Sementara kemahirannya dalam tulis menulis aksara latin didapatkannya ketika nyantri di Pesantren Jamsaren
Solo.
Sebagai langkah pertama, pada
tahun 1921, Kiai Nachrowi Thohir mendirikan Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan.
Nama Nahdlatul Wathan sendiri dinisbatkan dari gerakan yang dilakukan oleh para
ulama nusantara yang dimulai pada tahun 1916. Walaupun tidak ada keterangan lebih
lengkap mengenai hal ini, penisbatan nama Nahdlatul Wathan ini tentu bukan
tidak beralasan, melainkan menunjukkan jejaring yang dilakukan oleh para ulama
dahulu dalam melakukan gerakan untuk tanah air dan mengajarkan Islam secara
terstruktur. Terlebih karena Kiai Nachrowi sendiri merupakan jebolan pondok pesantren yang
sama dengan para ulama-ulama tersebut.
Keinginan untuk mendirikan
madrasah bukan berarti bahwa Kiai Nachrowi tidak mempercayai pendidikan
pesantren yang dikenal dengan pendidikan tradisional. Melainkan, ingin
melengkapinya dan menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat. Prinsip dan kaidah almuhafadzatu ala qodimis sholih wal akhdzu
bil jadidil ashlah (menjaga tradisi lama yang baik dan
mengambil tradisi baru yang lebih baik) selalu dipegang teguh oleh Kiai
Nachrowi Thohir dalam menapaki langkah-langkah perjuangannya. Pada waktu itu, berkembang
anggapan bahwa model pendidikan di pesantren tidak lagi mengakomodir kebutuhan
pendidikan generasi muda. Dalam keyakinan Kiai Nachrowi, sistem pendidikan dan
materi yang diterapkan di pesantren bukanlah hal buruk bahkan tidak dapat
dikesampingkan sebab pesantren merupakan lembaga pendidikan yang paling penting
untuk mendidik manusia menurut fitrahnya. Namun, alangkah lebih baiknya apabila
komunitas pesantren mendapatkan materi tambahan mengenai materi-materi umum
lainnya. Salah satu materi umum yang diperlukan oleh masyarakat muslim terutama
generasi muda waktu itu adalah materi baca dan tulis aksara. Sebab, generasi
muda yang mengenyam pendidikan di pesantren hanya mengerti dan bisa menulis
dengan bahasa arab saja dan tidak untuk bahasa-bahasa lain seperti bahasa latin
yang digunakan dalam buku-buku yang beredar, surat menyurat dan segala
keperluan administratif lainnya.
Akhirnya, Kiai Nachrowi betul-betul
merealisasikan idenya untuk mengadakan penyempurnaan dalam pendidikan yang
mencakup sistem pendidikan, materi, metode belajar, dan evaluasi pembelajaran
demi tercapainya tujuan. Oleh karenya, Kiai Nachrowi mendirikan Madrasah
Nahdlatul Wathan sebagai tonggak berdirinya Madrasah Muslimin Nahdlatul Wathan
(1921), Madrasah Muslimat Nahdlatul Wathan (dirintis sejak tahun 1924), dan Hollandsch Inlandsch School (HIS) Nahdlatul
Oelama (1939) di daerah Sawahan. Madrasah HIS NO ini merupakan satu-satunya
sekolah milik NU di Indonesia. Dari madrasah yang didirikan oleh Kiai Nachrowi
Thohir inilah muncul berbagai madrasah lain yang tersebar baik di Malang maupun
di luar Malang. Sederet nama tokoh pun muncul sebagai jebolan madrasah ini,
diantaranya Prof. Dr. KH. Tolhah Mansoer, Mayor KH. Oesman Mansur, Ibu Khusnul
Chotimah Sali sekertaris pertama Fatayat NU, Chotib Sali (kakak dari Khusnul
Chotimah), Ahmad Hudan Dardiri, dan lain-lainnya.
Mendirikan Madrasah di Jagalan
Sebagai modal awal mendirikan
madrasah yaitu berupa pengalaman Kiai Nachrowi dan bagunan dua lantai yang
terdiri dari beberapa ruangan, kantor, papan, dampar (meja pendek), dan
tikar (alas untuk tempat duduk). Sementara waktu itu masih jarang bagunan yang
terdiri dari dua lantai. Yang ada, salah satunya, adalah bangunan balai kota
yang terdiri dari dua lantai juga.
Sebagai putra dari sosok kiai kharismatik asal Singosari dan
menantu dari saudagar kaya ternyata tidak menjadi “karpet merah” dalam
menjalankan peran sosial di tengah masyarakat. Banyak cerita mengenai hal ini.
Misalnya, cerita ketika Kiai Nachrowi ingin mendirkan madrasah untuk anak-anak
perempuan.
Berawal dari kesadaran bahwa pendidikan dibutuhkan tidak hanya
oleh kaum laki-laki melainkan juga perempuan. Maka, pada tahun 1924 mulailah
merintis kelas untuk anak-anak perempuan. Akan tetapi, rupanya keinginan untuk
merintis kelas untuk anak-anak perempuan ini banyak pihak yang menentang.
Penolakan tersebut berawal ketika Kiai Nachrowi meminta pendapat (sowan) ke
kiai-kiai se Malang. Adapun bentuk penolakannya berupa tidak ada tanggapan
(diam) sampai penolakan secara langsung. Sebab, waktu itu masih belum lazim
bagi anak perempuan menerima pendidikan di sekolah formal.
Melihat tidak ada dukungan, Kiai
Nachrowi kemudian mengumpulkan masyarakat terutama para orang tua murid
(laki-laki) yang sudah menjadi santri di madrasah. Tentu, tanggapan negatif pun
muncul. Berbagai respon negatif tersebut bermacam-macam. Ada yang hanya sekedar
bergumam dalam bahasa jawa, “arek
wedok onok nak pawon, lapo kathek sekolah barang (anak
perempuan tempatnya di dapur, buat apa disekolahkan)”. Bahkan ada pula yang
mengancam secara kasar yakni dengan senjata tajam,“lek sampek onok arek wedhok disekolahno,
temenan iki sing ate melayang (kalau sampai ada anak perempuan
yang disekolahkan, maka ini bakalan melayang)”, sambil menunjukkan
golok/parang.
Menyikapi berbagai tanggapan
tersebut, Kiai Nachrowi tak patah semangat dan terus bersabar. Beliau kembali
berkonsultasi kepada para kiai dan guru-gurunya. Salah satu kiai tersebut memerintahkan
Kiai Nachrowi untuk menghadap kepada Kiai Abdul Wahab Hasbullah di Tambakberas
Jombang. Mendapatkan perintah tersebut, Kiai Nachrowi langsung berangkat ke
Jombang. Di tengah perjalanan dari Malang ke Jombang, Kiai Nachrowi kemalaman
dan bersitirahat di sebuah masjid dan tertidur. Di tengah tidurnya, Kiai
Nachrowi bermimpi didatangi seseorang dan berkata dengan menggunakan bahasa
jawa, “tirokno dungo iki”, kemudian
seseorang tersebut melanjutnya dengan bacaan do’a “Allahumma inna nas’aluka al afwa wa al afiyah
wa al mu’afah ad da’imah fi ad dini wa ad dunyan wa al akhiroh. Allahumma ahsin
‘aqibatana fi umuri kulliha wa ajirna min hissyi ad dunya wa dzahabi al akhiroh
wa finatihima wa baliyyatihima inna ‘ala kulli syai’in qodir.” “Wes cukup. Nanti sesampainya di Jombang, kamu
akan melihat seseorang yang sedang menggerek burung, dialah yang bernama Kiai
Abdul Wahab Hasbullah”, kata orang tersebut mengakhiri
percakapan. Kiai Nachrowi kemudian terbangun dan keesokan harinya melanjutkan
perjalanan menuju Tambakberas Jombang.
Setibanya di Jombang, beliau
kemudian bertanya kepada masyarakat sekitar dan menuju komplek pondok yang
ditunjukkan orang-orang. Begitu masuk komplek pondok pesantren Tambakberas,
ternyata benar, terlihat seseorang yang sedang menggerek burung. Kiai
Nachrowi kemudian langsung menyapa dan mengucapkan salam. Kemudian bertanya
orang tersebut apakah benar Kiai Abdul Wahab Hasbullah. Setelah mendapatkan
jawaban bahwa orang tersebut adalah Kiai Abdul Wahab Hasbullah, Kiai Nachrowi
langsung mengenalkan dirinya yang berasal dari Malang. Belum bicara banyak,
serentak Kiai Nachrowi Thohir kaget ketika Kiai Abdul Wahab Hasbullah
menanyakan do’a yang diberikan kepadanya dalam perjalanan dan meminta Kiai
Nachrowi untuk membacanya. Setelah selesai membacanya, Kiai Abdul Wahab
Hasbullah berkata, “Iya
benar, insya
Allah tujuan sampean berhasil.”
Sepulang dari Jombang, ide pendirian sekolah untuk anak-anak
perempuan tersebut sudah menyebar kemana-mana bahkan sampai di luar Malang.
Dan, mulai banyak anak-anak perempuan yang dititipkan sebagai santri. Karena
tidak sedikit yang berasal dari luar Malang, maka Kiai Nachrowi membuka kelas
di rumah kediamannya sendiri. Kamar-kamar yang digunakan untuk keluarganya juga
digunakan sebagai tempat menginap para santri putri sekaligus menjadi ruang
kelas. Santri putri tersebut diantaranya Aminah dan Maryam binti H. Mansur asal
Sidoarjo, Khusnul Chotimah Sali asal Jagalan, Marfu’ah asal Sukorejo Pasuruan,
Aliyah binti H. Ma’ruf dari Singosari, Malihah dari Karangploso yang nantinya
diperistri oleh Jendral Mukhlas Rowi, serta banyak lagi nama-nama lainnya.
Seiring dengan berjalannya waktu, semakin banyak yang
mendaftarkan diri sebagai santri di madrasah ini, akhirnya Kiai Nachrowi pergi
ke pondok pesantren Jamsaren Solo dan menghubungi teman-temannya ketika dirinya
berada di Jamsaren. Alasan lainnya karena Kiai Nachrowi juga aktif dalam
konsolidasi pembentukan NU di daerah-daerah sebagaimana tercatat sebagai
pendiri dan ketua NU yang pertama di Malang. Kepergian Kiai Nachrowi ke
Jamsaren tersebut tampaknya membuahkan hasil yaitu didatangkannya para tenaga
pengajar untuk membantu pengembangan pendidikan di Jagalan. Mereka tak lain
adalah teman-teman Kiai Nachrowi dalam kelompok diskusi ketika di Jamsaren,
antara lain Syaikh Abbas Syato dari Mesir, Kiai Syukri Ghozali dari Salatiga,
Kiai Badrussalam dari Solo, Kiai Damanhuri dari Yogyakarta, Kiai Mustafid dari
Solo, Kiai Syamsuri dari Solo, Kiai Murtadji Bisri dari Blitar dan kemudian
hari ada “Menir” Hasan dari Bandung, Bapak Nur Yaman dari Semarang, Kiai Mas’ud
dari Blitar. “Menir” Hasan dan Bapak Nur Yaman ditempatkan sebagai pengajar di
HIS NO Sawahan.
Seiring dengan berdirinya
Nahdlatul Ulama pada tahun 1926 dimana Kiai Nachrowi Thohir menjadi salah satu muassisnya, maka Madrasah Muslimin
Nahdlatul Wathan tersebut berubah menjadi Madrasah Muslimin Nahdlatul Ulama.
Begitu pula dengan madrasah untuk anak-anak perempuan berubah menjadi Madrasah
Muslimat Nahdlatul Ulama. Dan, pada waktu selanjutnya, ketika pemerintah memberlakukan
pendidikan dasar berupa Sekolah Rakyat (SR) tahun 1945, maka sekolah-sekolah
yang berada pada level dasar lebih dikenal dengan sebutan SR. Begitu juga
madrasah milik Nahdlatul Oelama (NO) dikenal dengan sebutan SR NO.
Penting untuk diketahui bahwa jauh sebelum sekolah-sekolah milik
pemerintah memberlakukan peraturan guru harus rajin dan mengenakan pakain rapi
seperti dasi, sepatu dan kopyah, madrasah/SR NO Jagalan sudah memberlakukan
tradisi-tradisi tersebut: guru harus rajin mengajar, disiplin dan rapi dalam
berpakaian.
Sumber:
Wawancara dengan KH. Drs. A. Buchori Amin (santri dan khodim KH. Nachrowi Thohir)
Wawancara dengan KH. Drs. Moensif Nachrowi (putra KH. Nachrowi Thohir)
Wawancara dengan KH. Drs. A. Buchori Amin (santri dan khodim KH. Nachrowi Thohir)
Wawancara dengan KH. Drs. Moensif Nachrowi (putra KH. Nachrowi Thohir)