Biografi KH. Abdul Halim Leuwimunding
3 menit dibaca
Seorang alim dari Jawa Barat yang menjadi salah satu pendiri NU
awal. Namanya terabadikan dalam dokumen kepengurusan NU. Setelah jam'iyyah ini
didirikan pada 26 Januari 1926, menjabat sebagai Katib Tsani (Katib Awwal
dijabat KHWahab Hasbullah). Selain dirinya, semua pengurus NU awal itu adalah
tokoh-tokoh Jawa Tengah dan Jawa Timur (termasuk Madura).
Ia juga dipandang sebagai satu-satunya pendiri NU yang saat itu
belum memiliki pesantren. Nama Abdul Halim selalu dikaitkan dengan
Leuwimunding, untuk membedakan nama Abdul Halim lain yang juga berasal dari
daerah yang sama. Abdul Halim yang lain ini adalah pendiri Persyarikatan Ulama
yang berpusat di Majalengka.
Abdul Halim Leuwimunding sering dikelirukan dengan Abdul Halim
yang menjadi pendiri Persyarikatan Ulama itu. Padahal, keduanya berbeda,
meskipun sama-sama pernah ke Makkah dan bahkan hingga saat ini dimajalengka
Nama Abdul Halim yang jadi nama jalan dikota hanya tokoh PUI saja.
Leuwimunding adalah nama sebuah desa yang di masa lalu merupakan
kawedanan yang membawahi dukuh-dukuh Leuwimunding. Lebak (Leuwikujang), Cirabat
(Mirat), dan Cibatur/Nyebrak (Ciparay). Sekarang,Leuwimunding nama kecamatan
dengan 14 desa, dan diantaranya Desa Leuwimunding sendiri, yang semuanya
berbahasa Sunda kecuali satu desa yang menggunakan Bahasa Jawa, yaitu Desa
Patuanan. Secara harfiah, nama Leuwimunding berarti "danau tempat minumnya
kerbau", karena di masa lalu,tempat ini adalah hutan yang terdapat danau
yang dijadikan tempat minum satwa liar, termasuk kerbau.
Dari Makkah ke Tebuireng
Abdul Halim Leuwimunding dilahirkan pada Juni 1898 dari pasangan
Mbah Kedung Wangsagama dan Nyai Santamah. Para buyutnya adalah tokoh-tokoh
setempat, yaitu Buyut Kreteg, Buyut Liuh, dan Buyut Kedung Kertagam. Setelah
itu, Abdul Halim belajar mengaji di Pesantren Trajaya Majalengka, kemudian
meneruskan ke Pesantren Kedungwuni, Majalengka, dan dilanjutkan di Pesantren
Kempek, Cirebon.
Sebagaimana tokoh-tokoh di masanya yang berkelana sampai Makkah
untuk menuntut ilmu, Abdul Halim juga menempuh hal yang sama. Ini dilakukan
ketika ia baru berusia 16 tahun, yaitu pada sekitar tahun 1914.
Sebelumnya dua pamannya telah berada di sana, yaitu H. Ali dan
H. Jen. Di Makkah Abdul Halim bertemu dan berkawan baik dengan K.H.Abdul Wahab
Hasbullah. Ia kemudian pulang ke tanah asalnya pada 1917, dan satu tahun
kemudian ia mencari ilmu di pesantren yang ada di Jawa Timur.
Abdul Halim memutuskan berangkat ke Tebuireng, Jombang, yang
saat itu diasuh oleh kiai yang sangat dihormati di seluruh Jawa dan Madura
yaitu K.H. Hasyim Asy'ari. Dengan demikian, sejak awal Abdul Halim sudah
memiliki jaringan dengan pendiri NU, baik dengan K.H. Abdul Wahab maupun K.H.
Hasyim Asy'ari. Abdul Halim kemudian menjadi salah satu peserta diskusi-diskusi
dalam perbincangan pendirian NU, dan salah seorang yang hadir dalam pendirian
NU pada 31 Januari 1926 atau 16 Rajab 1344 H di Kertopaten, Surabaya. Ia
sendiri kemudian mendapat kehormatan untuk menjabat sebagai Katib Tsani dalam
kepengurusan NU awal itu.
Selama berguru kepada KH Wahab Hasbullah, Abdul Chalim telah
mendarmabhaktikan hidupnya demi perkembangan ilmu di kalangan para santri. Di
mana Nahdlatul Wathan merupakan tempat yang sangat baik bagi Abdul Chalim dalam
berguru dan menularkan kemampuan ilmiahnya.
Pendekatan ilmiah terhadap masyarakat dengan interaksi sosial
keagamaan dalam Nahdlatul Wathan merupakan salah satu sumbangsih KH Abdul
halim. Bagi KH Abdul halim pendekatan sosial kepada masyarakat untuk menerapkan
kaidah-kaidah keilmuan syariat bagi kehidupan masyarakat menumpakan sebuah
terobosan yang sangat urgen dalam menyebarkan konsep-konsep keislaman yang
membumi.
Abdul Halim juga memerintah dan mengembangkan NU di Jawa Barat,
khususnya sekitar Majalengka, bersama kiai-kiai yang merintis NU di Jawa Barat,
seperti K.H. Abbas dan keluarga Pesantren Buntet, K.H. Mas Abdurrahman dan
masih banyak lagi yang lain.
Sebagai pendiri NU, Abdul Halim tidak memiliki pesantren, tetapi
atas saran K.H. Wahab Hasbullah yang bertemu di Bandung pada 1954, kemudian
Abdul Halim mendirikan pusat pendidikan. Baru pada tahu 1963 ia mendirikan dan
mengembangkan Madrasah Ibtidaiyyah Nahdlatul Ulama (MI-NU) yang menjadi Madrsah
Dinyah pertama di Majalengka. Pada perkembangan selanjutnya, pendidikan ini
bertambah dengan Madrasah Tsanawiyah Leuwimunding di bawah payung Yayasan
Sabilul Halim.
Sosok yang Sederhana
Selama perjalanannya dalam mengembangkan NU di Jawa barat, ia
hanya berbekal dua sarung dan makanan seadanya. Lalu, pada saat menjadi anggota
DPR GR tak pernah sedikit pun memakai uang atau fasilitas negara. Bahkan
mushola dan mesjid menjadi tempat istirahat di kala perjalanan menuju ibu kota
Jakarta.
Tidak hanya berkiprah di dunia pendidikan. Pada tahun 1955 KH
Abdul Halim menjadi anggota DPR dari partai NU dari perwakilan Jawa Barat.
Sejak saat ini perjuangan KH Abdul halim lebih dititikberatkan pada
pemberdayaan warga NU Jawa Barat dengan membentuk berbagai wadah pemberdayaan
masyarakat seperti PERTANU (Perkumpulan Petani NU), PERGUNU (Perkumpulan Guru
NU) dan pendirian lembaga-lembaga pendidikan NU di Jawa Barat lainnya.
Sang alim ini meninggal dunia pada 11 April 1972 dengan
meninggalkan kenangan kesederhanaan hidup dan kesahajaan disemayamkan di
sekitar area Gedung MTs Sabilul Chalim Leuwimunding. (Aris
Prayuda/Anam)
*Dikutip dari buku "KH Abdul
Chalim Kenapa Harus Dilupakan?" karya J. Fikri Mubarok), dan wawancara
dengan Drs Arifin Muslim (Wakil Ketua PCNU Majalengka, 13 Januari 2015)